Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah memulihkan kesadaran dengan segelas teh hangat buatan ibu (yang setengah mati selalu ingin kutiru rasanya di perantauan tp tak pernah kucapai setengah kenikmatannya..
), kulakukan tugasku: mencuci baju semua orang di rumah. Bapak sudah basah sambil memandikan Carreta hijau kesayangannya di depan rumah. Ibu meramaikan pagi dengan berbagai bebunyian di dapur: pisau berdetak-detak di atas talenan, panci berjatuhan saat wajan di bawahnya ditarik paksa dari lemari dapur, ceret berdenging menyatakan bahwa air di dalamnya telah matang, bawang putih dkk berteriak nyaring saat kulitnya menyentuh minyak panas di penggorengan.
Memang, kami selalu menerapkan pembagian tugas harian seperti ini tiap pembantu mudik. Kedua adikku juga. Lora biasa menyeterika baju kering setelah dijemur. Dryan biasa disebut "pembantu umum" karena paling sering dimintai bantuan oleh anggota keluarga lainnya. Dia paling suka membantuku menjemur pakaian dan membasahi seluruh ruang jemuran dengan hentakan pakaian yang telah diperasnya.
Selesai dengan segala kesibukan pagi, aku bergiliran mandi dengan bapak dan ibu. Hari itu bapak dan ibu berencana menghadiri halal bihalal di Balaikota. Aku? Aku ada janji dengan m’ G di pernikahan Ade, seorang teman se-ruang kerja di Bandung.
*** hik2.. sebenernya blog ini da kulanjutin kemarin, tp ko ga kesimpen siiiiih .. ~x( ***
Berkaca-kaca (ngaca, maksudnya..) dan berpose jadi acara selanjutnya buatku dan ibu. Ibu kegirangan dan merayakan kepulanganku dengan cara mendandaniku dengan berbagai peralatan yang beliau punya. Toh akhirnya aku tetap memilih dandanan yang natural.
Tepat pukul 9, kami berangkat dengan Carreta hijau Bapak yang sudah berkilau berkat ’sentuhan ajaib’ Bapak selama satu jam. Lewat tol, tak sampai setengah jam kemudian kami sudah keluar tepat di depan swalayan ADA, tempat yang kujanjikan dengan m’ G untuk bertemu.
Tinggi, duduk dekat jendela dan berbatik merah bata, m’ G mudah dikenali, walaupun dia sedang sibuk dengan koran dan makanannya. Setelah ibu berbasa-basi sebentar dengannya, aku dan m’ G ditinggal dengan janji bertemu jam 12 siang nanti di depan Serrata.
—
Setelah satu setengah jam ngobrol kesana-kemari, kami memutuskan berangkat ke tempat resepsi pernikahan Ade yang berjarak +- 500 meter dengan angkutan umum. Sampai di sana, sedikit terkejut dengan pintu masuk ruang resepsi yang BENAR-BENAR terpisah bagi tamu pria dan wanita, kami masuk masing-masing melalui pintu yang disediakan.
Pernikahan sederhana itu dihadiri sebagian besar oleh keluarga. Sedikit membosankan bagiku, karena tak banyak yang bisa kuajak ngobrol dan berbagi cerita. Untungnya ada beberapa teman lama juga di sana, sehingga satu jam itu tidak terlalu menyulitkan buatku. Sambil menikmati santapan yang ada dan sesekali berkirim sms dengan m’ G yang berada di sisi berbeda ruangan tersebut, kami bertukar cerita tentang Ade hingga rencana reuni SMU.
—
Satu jam berlalu. M’ G mengajakku keluar dan kamipun bertemu di depan ruang resepsi. Kami bertukar cerita selama di ruang resepsi sambil menunggu bapak dan ibu menjemputku.
Tiba-tiba kulihat ibu berjalan menuju ke arah kami dan melambaikan tangan. M’ G mengantarku sampai mobil kami bergerak. Dan.. kami berpisah di situ.
—
Setelah tidur siang (walau agak kesorean), bapak, ibu, aku dan kedua adikku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan menonton film dengan VCD yang kami sewa. Hingga kantuk menjelang dan kami beristirahat di kamar masing-masing.
=====
Sebelum lelap malam itu, aku baru benar-benar menyadari, ini adalah hari yang kutunggu. Setelah beberapa hari tersiksa dengan penantianku, beberapa minggu gelisah dan tak tenang, saat hari itu datang aku malah baru mengingatnya selarut ini. Aku hanya dapat berkata dalam hati, "Betapa bahagia dia hari ini, hari bahagia yang dinanti-nanti. Betapa segala kebahagiaan jadi miliknya bersama keluarga, bertahta di hadapan hadirin dengan senyum bangga. Betapa senangnya, segala yang dipinta jadi nyata.. "
Dengan sisa-sisa kesadaran yang kumiliki, pintaku lirih kubisikkan pada-Nya,
"Ampuni aku Tuhan, karena sempat meragukan kebijaksanaan-Mu. Ampuni
aku karena tak segera bersyukur atas pemberian-Mu. Ampuni aku karena
sempat lebih mencintainya daripada mencintai-Mu. Ampuni aku yang pernah mencoba menahan kepergiaannya walau kutahu itu kehendak-Mu. Ampuni aku karena lupa
pada-Mu saat kehilangan dia.
Tuhan, biar semua ini berlalu dari padaku. Ambillah semua kenangan indah dan luka ini dariku, dengan cara yang sama dengan cara-Mu membiarkannya pergi dari sisiku. Terima kasih Tuhan, atas semua yang pernah kualami bersamanya. Limpahi aku dengan kebahagiaan yang tak kalah indah dengan kebahagiaan yang kini hadir baginya. Amin."
Malam itu, tidurku lebih lelap dari malam-malam sebelumnya. Dan jika hari itu-pun dapat kulalui dengan tersenyum, kepedihan apa lagi yang mungkin menghapus senyum dari wajah dan hatiku??
Thanks to M’ G for his kindness accompanying me today. Thanks to my family for being around n giving me a non-stop beautiful love. Thanks to all my supporting friends. Thanks to You..