Archive for October, 2006

.: SETELAH “SEGALANYA” BERLALU :.

Tuesday, October 31st, 2006

Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah memulihkan kesadaran dengan segelas teh hangat buatan ibu (yang setengah mati selalu ingin kutiru rasanya di perantauan tp tak pernah kucapai setengah kenikmatannya.. :D ), kulakukan tugasku: mencuci baju semua orang di rumah. Bapak sudah basah sambil memandikan Carreta hijau kesayangannya di depan rumah. Ibu meramaikan pagi dengan berbagai bebunyian di dapur: pisau berdetak-detak di atas talenan, panci berjatuhan saat wajan di bawahnya ditarik paksa dari lemari dapur, ceret berdenging menyatakan bahwa air di dalamnya telah matang, bawang putih dkk berteriak nyaring saat kulitnya menyentuh minyak panas di penggorengan.

Memang, kami selalu menerapkan pembagian tugas harian seperti ini tiap pembantu mudik. Kedua adikku juga. Lora biasa menyeterika baju kering setelah dijemur. Dryan biasa disebut "pembantu umum" karena paling sering dimintai bantuan oleh anggota keluarga lainnya. Dia paling suka membantuku menjemur pakaian dan membasahi seluruh ruang jemuran dengan hentakan pakaian yang telah diperasnya.

Selesai dengan segala kesibukan pagi, aku bergiliran mandi dengan bapak dan ibu. Hari itu bapak dan ibu berencana menghadiri halal bihalal di Balaikota. Aku? Aku ada janji dengan m’ G di pernikahan Ade, seorang teman se-ruang kerja di Bandung.

*** hik2.. sebenernya blog ini da kulanjutin kemarin, tp ko ga kesimpen siiiiih .. ~x( ***

Angel003_2 Berkaca-kaca (ngaca, maksudnya..) dan berpose jadi acara selanjutnya buatku dan ibu. Ibu kegirangan dan merayakan kepulanganku dengan cara mendandaniku dengan berbagai peralatan yang beliau punya. Toh akhirnya aku tetap memilih dandanan yang natural.

Tepat pukul 9, kami berangkat dengan Carreta hijau Bapak yang sudah berkilau berkat ’sentuhan ajaib’ Bapak selama satu jam. Lewat tol, tak sampai setengah jam kemudian kami sudah keluar tepat di depan swalayan ADA, tempat yang kujanjikan dengan m’ G untuk bertemu.

Tinggi, duduk dekat jendela dan berbatik merah bata, m’ G mudah dikenali, walaupun dia sedang sibuk dengan koran dan makanannya. Setelah ibu berbasa-basi sebentar dengannya, aku dan m’ G ditinggal dengan janji bertemu jam 12 siang nanti di depan Serrata.


Setelah satu setengah jam ngobrol kesana-kemari, kami memutuskan berangkat ke tempat resepsi pernikahan Ade yang berjarak +- 500 meter dengan angkutan umum. Sampai di sana, sedikit terkejut dengan pintu masuk ruang resepsi yang BENAR-BENAR terpisah bagi tamu pria dan wanita, kami masuk masing-masing melalui pintu yang disediakan.

Pernikahan sederhana itu dihadiri sebagian besar oleh keluarga. Sedikit membosankan bagiku, karena tak banyak yang bisa kuajak ngobrol dan berbagi cerita. Untungnya ada beberapa teman lama juga di sana, sehingga satu jam itu tidak terlalu menyulitkan buatku. Sambil menikmati santapan yang ada dan sesekali berkirim sms dengan m’ G yang berada di sisi berbeda ruangan tersebut, kami bertukar cerita tentang Ade hingga rencana reuni SMU.


Satu jam berlalu. M’ G mengajakku keluar dan kamipun bertemu di depan ruang resepsi. Kami bertukar cerita selama di ruang resepsi sambil menunggu bapak dan ibu menjemputku.

Tiba-tiba kulihat ibu berjalan menuju ke arah kami dan melambaikan tangan. M’ G mengantarku sampai mobil kami bergerak. Dan.. kami berpisah di situ.


Setelah tidur siang (walau agak kesorean), bapak, ibu, aku dan kedua adikku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan menonton film dengan VCD yang kami sewa. Hingga kantuk menjelang dan kami beristirahat di kamar masing-masing.

=====
Sebelum lelap malam itu, aku baru benar-benar menyadari, ini adalah hari yang kutunggu. Setelah beberapa hari tersiksa dengan penantianku, beberapa minggu gelisah dan tak tenang, saat hari itu datang aku malah baru mengingatnya selarut ini. Aku hanya dapat berkata dalam hati, "Betapa bahagia dia hari ini, hari bahagia yang dinanti-nanti. Betapa segala kebahagiaan jadi miliknya bersama keluarga, bertahta di hadapan hadirin dengan senyum bangga. Betapa senangnya, segala yang dipinta jadi nyata.. "

Dengan sisa-sisa kesadaran yang kumiliki, pintaku lirih kubisikkan pada-Nya,

"Ampuni aku Tuhan, karena sempat meragukan kebijaksanaan-Mu. Ampuni
aku karena tak segera bersyukur atas pemberian-Mu. Ampuni aku karena
sempat lebih mencintainya daripada mencintai-Mu. Ampuni aku yang pernah mencoba menahan kepergiaannya walau kutahu itu kehendak-Mu. Ampuni aku karena lupa
pada-Mu saat kehilangan dia.

Tuhan, biar semua ini berlalu dari padaku. Ambillah semua kenangan indah dan luka ini dariku, dengan cara yang sama dengan cara-Mu membiarkannya pergi dari sisiku. Terima kasih Tuhan, atas semua yang pernah kualami bersamanya. Limpahi aku dengan kebahagiaan yang tak kalah indah dengan kebahagiaan yang kini hadir baginya. Amin."

Malam itu, tidurku lebih lelap dari malam-malam sebelumnya. Dan jika hari itu-pun dapat kulalui dengan tersenyum, kepedihan apa lagi yang mungkin menghapus senyum dari wajah dan hatiku??
:)

Thanks to M’ G for his kindness accompanying me today. Thanks to my family for being around n giving me a non-stop beautiful love. Thanks to all my supporting friends. Thanks to You.. :)

Satu Kenangan

Sunday, October 8th, 2006

Mengenang kembali, saat2 bersamanya..
Ada suka, ada duka
Ada saat kami berbagi tawa dan tangis berdua..

Walau kini tinggal suka yang sering hadirkan derita

Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita
kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita
kau berikan aku bahagia, kau berikan aku derita

Toh semua itu akhirnya harus berakhir karena perbedaan yang bahkan sudah ada sebelum semua diawali. Suka, derita, tawa dan air mata kini tinggal cerita. Kadang tidak terima, mengapa harus kami yang mengalami kesakitan ini. Mengapa jurang yang ada lebih lebar dari jembatan yang bisa kami bangun ..

keyakinan yang memisahkan kita
buatku bertanya
adilkah ini..

Saat-saat mengenang kebersamaan kami, hanya air mata yang menemani.

Langit begitu gelap, hujan tak juga reda
Ku harus menyaksikan cintaku terenggut tak terselamatkan
Ingin ku ulang hari, ingin kuperbaiki
Kau sangat kubutuhkan, beraninya kau pergi dan tak kembali

Semuanya telah berakhir, antara hatiku dan hatimu
Tak ‘kan ada cinta seperti yang dulu
Semuanya telah berakhir, antara diriku dan dirimu
Tak ‘kan ada rindu seperti yang dulu

Terlarut aku dalam kesendirian
Saat aku menyadari, tiada lagi dirimu kini
Sampai kapankah aku mampu bertahan
Tetapi aku jalani semua kisah hidupku ini
Tak akan terganti, setiap kenangan yang telah terukir
Dan terendap indah dan melekat di hati

itu perasaanku hingga beberapa hari yang lalu..

Kini aku sadar dengan sepenuh hati, semua ini memang harus terjadi. Perpisahan ini bukan akhir dunia, bahkan mungkin ‘kan jadi awal yang indah buatku.

Bila kita harus berpisah, sudah
Biarkan ini semua berakhir, sudah
Cinta memang tak harus memiliki

Aku takkan lagi berharap. Memang hingga kini masih terasa sakit, tapi kuyakin rasa ini hanya kan tinggal di hatiku sementara.

Aku berhenti berharap, dan menunggu datang gelap
sampai nanti suatu saat, tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita, bila bahagia tercipta?
Kenapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan?

Berita bahagia darinya membuatku memutuskan untuk berhenti mengenangnya. Bukan berarti tak peduli pada masa lalu, aku hanya tak ingin pengalamanku membebani langkahku menapaki hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sudah… terlambat sudah kini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik dan kita mesti relakan kenyataan ini

Meski dulu aku benar-benar yakin bahwa takdir ditentukan pula oleh hasil perjuangan kita, mungkin aku harus menambahkan bahwa takdir hanya menentukan hal-hal terbaik bagi hidup kita. Jika (tampaknya) bukan yang terbaik yang terjadi di hidupku, kuyakin suatu saat nanti aku dapat melihatnya dengan senyum merekah.

Kau temukan lagi seseorang yang bisa menjadi pendampingmu
Saat kau lemah, dia kan mencoba membuatmu bahagia
Dan menjadi penopang saat kau lelah (letih tak berdaya)

Disaat kau merasa lemah tak berdaya
Dia kan mencoba memelukmu dengan hatinya

Kuingin engkau percaya bahwa kubahagia melihatmu dengannya
Kuminta tetaplah setia bahwa kubahagia melihatmu dengannya

Tak ada lagi kutakutkan dari kehilangan ini
Kutetap berdiri

Jika… memang diriku
Bukanlah  menjadi pilihan hatimu
Mungkin… sudah takdirnya
Kau dan aku
Tak ‘kan mesti bersatu


Berat hati menerima kehilanganmu
Tegarkan aku saat kau memilih dirinya…
Pergi cinta, lupakanlah aku cinta
Ku relakan dia ada di pelukmu
Pergi cinta, hapus bayangku cinta, bahagiakan dia cinta
Sampai akhir waktu engkau bersamanya

Walau pedih…
Tapi ku baik-baik saja

Hanya pada Tuhan aku harus memohon, hanya kepada-Nya aku meminta pertolongan.

Yakinkan aku Tuhan dia bukan milikku
biarkan waktu, waktu hapus aku
Sadarkan aku Tuhan dia bukan milikku
biarkan waktu, waktu hapus aku

Maka tak perlu lagi air mata ini tertumpah demi kenangan indah itu. Tak perlu lagi sesal terucap saat ku mengenangnya.

Tak ku sesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari-hariku
Aku t’lah meragu mengapa harus dirimu


Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi
Biar terjadi…
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua…kan baik-baik saja

Bila ketetapan Tuhan
Sudah ditetapkan
Tetaplah sudah…
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang

Menunggu..

Sunday, October 1st, 2006

Dulu hadir seorang pemuda di hariku.

Berawal di sesaknya kereta ekonomi menjelang libur panjang sekolah dan kantor, kami bertemu.
Saat menunggu datangnya kereta diantara ramai penumpang, dia menyapa.
Saat kutanya, mengapa ia tiba-tiba menghampiri dan mengajakku berkenalan,
"Kamu mirip mantan pacarku yang sudah meninggal.."
Upsss.. Dalam hatiku berdendang:

Engkau seperti kekasihku yang dulu..
Sungguh hadirmu menyejukkan risau jiwaku
Begitu lekatnya perasaanku ini padamu
Hingga anganku kusandarkan padamu..
"

Berkat kehadirannya, suasana bising dan bermacam aroma tak sedap dalam kereta itu tak lagi kuhiraukan. Tatapannya yang tajam namun teduh, menyejukkan udara panas sepanjang perjalanan Semarang-Tegal.

Perjalanan singkat yang biasanya membosankan dan terasa 10 kali lebih lama dari 2,5 jam di atas kereta, saat itu penuh dengan canda dan obrolan ringan seputar kegiatan harian kami dan sebuah majalah remaja edisi valentine yang kubawa. Usianya yang tak lagi remaja mendominasi tema obrolan kami. Walau berkali-kali harus saling menerjemahkan istilah yang digunakan, karena jurang usia yang cukup lebar, kami sama-sama menikmati percakapan itu. Aku yang kala itu masih duduk di bangku SMU, banyak menimba ilmu dan pengalaman darinya. Dunia kerja yang penuh persaingan begitu menarik bagiku, semenarik sederetan kisah cinta masa lalu yang dikisahkannya dengan mimik lucu.

Dan pertemuan hari itu, diakhiri dengan tukar alamat kos masing-masing.

Waktu berlalu tanpa memberiku banyak kesempatan untuk memikirkan pertemuan pertama kami. Kesibukan belajar dan berbagai les mengaburkan ingatanku pada teman seperjalanan yang belakangan kuketahui berselisih usia 7,5 tahun denganku itu, ketika beberapa hari kemudian sepulang sekolah, di beranda depan kosku:

"Halo, Ima. Pulang sekolah ya? Aku kebetulan lewat sini dan kebetulan juga langsung inget alamat yang kamu kasih.. ya udah, mampir aja. Ketemu ibu kosmu, katanya bentar lagi kmu dateng. Ya udah, kutunggu aja. Toh ngga lagi buru2! Ganggu ga? Kalau ganggu, langsung cabut aja deh. Ini, ada oleh-oleh buatmu.."

Wait, wait..
Sapa ya? Kok langsung nerocos kayak petasan gt?? Ooo, mas2 yang kenalan di kereta waktu itu ya? Hmm..
Obrolan siang itu berlanjut hingga sore menjelang, mengiringi terbenamnya penguasa siang.. Dan diakhiri dengan janji kunjungan berikutnya akhir pekan nanti.

Akhir pekan berlalu, janji itu menguap di teriknya siang, membeku di dingin malam, namun tak kunjung hadir dalam tetesan embun pagi yang menyejukkan. Mungkin ia lupa.. Tapi aku juga!

Minggu berganti minggu, lembaran kalender bulanan berganti 3 kali, saat kembali kutemui dia di beranda kosku dengan penampilan yang jauuuuh berbeda. Dengan keheranan kutatap rambut gondrongnya yang masih cepak di ingatanku, dan tatapan itu berubah jadi ngeri melihat barisan rambut lain yang tumbuh memenuhi ujung bawah wajahnya hingga hampir mencapai lehernya. Terakhir kulihat orang seperti itu adalah gelandangan di ujung jalan Pemuda!

Tapi ternyata, suasana canggung itu segera berlalu. Tak seperti penampilannya, kehangatan dan kemampuannya menguasai suasana tak berkurang sedikitpun.. Bahkan pertemuan hari itu berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya di beranda yang sama.

Bulan demi bulan berlalu, tak terasa 4 kemarau sudah berlalu bersama penghujan. Saat itu aku bukan lagi siswi SMU, telah meningkat jadi ‘maha’ dengan segala kompleksitas di baliknya.

Kami makin dekat. Di sela-sela kedekatan itu, beberapa kali dia sisipkan niatnya untuk meningkatkan kualitas hubungan kami yang disampaikannya dalam baris-baris romantis nan meluluhkan perasaan. Keteguhanku dalam ketakutan pada rentang usia yang membedakan kami, akhirnya melunak juga dengan siraman kasihnya selama kurun waktu itu.

Maka jadilah kami sepasang kekasih, yang meskipun terpisah jarak kota, terus meningkat dalam kualitas kasih dan perasaan.

(Lagi-lagi) Bulan-bulan berlalu, merajut tahun-tahun yang indah penuh kenangan indah berdua. Hampir 2 tahun kami lalui, dan akhirnya harus berpisah karena perbedaan yang sesungguhnya sudah hadir sebelum kami mulai. Meski terpisah, perasaan ini toh tak pernah berkurang padanya.

Kilau dunia yang sarat dengan tawaran cinta dari berbagai pihak, tak menggoyahkan rasa sayang yg telanjur terpupuk. Benihnya telah berkembang menjadi batang berkayu, ranting yang menjalarkan daun, bunga dan buah yang lebat. Akarnya telah tumbuh terlalu dalam hingga tak mudah tercabut.
** Jadi inget tes menggambar pohon.. :D **

Hingga kini, setahun telah berlalu sejak kupinta perpisahan itu. Pekerjaan telah mengantarku menjadi seorang yang mandiri. Tak cukup banyak waktu kuhabiskan untuk mencari pasangan hati yang mau dan mampu mengisi hariku. Tak seorang lain pun sempat menggantikan tempatnya di dalam hatiku. Beberapa orang lain mengetuk pintu tanpa pernah kubuka, beberapa lainnya mengetuk pintu terbuka namun membatalkan niatnya untuk masuk.

Kemarin, saat membersihkan kamar kos seperti kegiatan rutinku tiap akhir pekan, kutemukan cincin pemberiannya dulu, di antara tumpukan debu dan berbagai benda kecil di sudut lemari. Potongan demi potongan gambar kenangan masa lalu melintas di alam pikirku, membuatku tersenyum sepintas.

Teringat saat hampir 2 jam kami berdiri di etalase toko perhiasan sambil mematut-matut puluhan cincin yang dipajang. Saat akhirnya dia memilih satu untukku, masih juga dipandangnya beberapa cincin yang lain tanda ragu-ragu. Bahkan senyum SPG toko perhiasan itu masih kuingat jelas, senyum yang ingin menunjukkan kesabaran di balik kelelahan menunggu.

Kuputuskan untuk mengenakannya kembali dengan alasan sederhana, cincin itu masih tampak bagus di jariku.

Malamnya, dering telepon membangunkanku yang baru mencoba tidur. Hmm.. suara lembut itu langsung mengingatkanku pada seluruh gaya dan gerak-geriknya yang dulu kurindui. Selama hampir setengah jam itu, hatiku seolah menemukan pemiliknya, nyamaaan.. sekali!

"Otat apa kabar? Udah bobo blm, dia? Lagi dipeluk ya??", godanya tentang boneka anjing pemberiannya yang saat itu memang sedang kupeluk.

Kesimpulan obrolan itu, dia akan segera menikah dengan kekasihnya akhir oktober ini. :(
Ya, kekasihnya yang masih lebih muda dariku itu!

Bagaimana denganku??

Itu bukan berita baru bagiku. Tak ada petir yang tiba2 menyambar seperti digambarkan dalam sinetron-sinetron mellow. Tak ada sebutirpun airmata menetes kala itu. Hanya sesungging senyum pilu yang takkan pernah dilihatnya lagi menghiasi malamku.

Tidak ada yang kurasakan. Sedih sudah setahun tinggal di hatiku. Kehilangan? Apa lagi yang bisa hilang dari hatiku yang kosong ini?? Sakit hati? Hatiku berbaju baja hingga tak lagi merasakan sakitnya..

Aku harus menunggu.. menunggu titik penting perubahan hidupku.

Dahulu kau mencintaiku..
Dahulu kau menginginkanku.
Meskipun tak pernah ada jawabku..
Tak berniat kau tinggalkan aku.

Sekarang kau pergi menjauh..
Sekarang kau tinggalkan aku.