Archive for July, 2006

Doa makan..

Sunday, July 30th, 2006

Renungan ringan dari gereja hari minggu kemaren..

Bagaimana doa makan kita? Apa isinya?
Ucapan syukur atas berkat yang melimpah, mohon berkat atas makanan yang terhidang, mohon berkat bagi mereka yang menghidangkan, semoga makanan yang kita nikmati memberikan kekuatan bagi kita…
Pernahkah kita dalam doa makan kita, mendoakan saudara2 kita yang kelaparan, yang belum dapat menikmati makanan seperti yang biasa kita hadapi sehari-hari?

Kalau pernah, apakah doa itu kurang-lebih berbunyi:
"Tuhan, berkatilah pula saudara-saudara kami yang kekurangan. Sediakan dan berikanlah bagi mereka makanan yang berkecukupan… "

Mampu-(dan mau)-kah kita berdoa, semoga makanan yang kita nikmati memberikan kekuatan bagi kita untuk berbagi dengan sesama yang kekurangan dan membutuhkan?
Betapa indah bila kekuatan yang kita peroleh dari makanan kita sehari-hari mampu membuat kita melihat kebutuhan dan kekurangan orang-orang di sekitar kita DAN bertindak untuk membantu meringankannya?

Wednesday, July 19th, 2006

"He poro wong kang kesayahan lan kamomotan,
                podho mreneo, Aku bakal gawe ayemmu."

Tuhan, apakah aku termasuk orang yang letih lesu dan berbeban berat?
Sedangkan kasih sayang orang tua dan orang2 di sekitarku memelukku dengan erat.
Sedangkan Tuhan tidak pernah membiarkan aku merasa sendiri, karena aku memang tidak sendiri.

Aku hanya hamba yang kurang bersyukur.
Sering merasa letih menyambut cintaMu.
Selalu menganggap kehadiranMu sebagai bebanku.

Padahal keletihanku tak sebanding dengan sukacita yang kuperoleh.
Bebanku tak seberapa dibanding dengan bahagia yang kumiliki.

Terima Kasih Tuhan

Tuesday, July 18th, 2006

Aku bermimpi pada suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikan menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, "Ini adalah seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan kepada Allah diterima".

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, "Ini adalah seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup dan memintanya". Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apapun. "Ini adalah seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.

"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan di sini?", tanyaku.

"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih". "Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?", tanyaku. "Sederhana sekali", jawab Malaikat. "Cukup berkata, ‘Terima kasih, Tuhan’ ".

"Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri?", tanyaku. Malaikat-ku menjawab,

"Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.
Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada di antara 8% kesejahteraan dunia."

Juga..

"Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan.. engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia.

Jika engkau dapat menghadiri gereja atau pertemuan religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan, atau kematian… maka engkau lebih diberkati daripada 3 milyar orang di dunia.

Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan… maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.

Jika engkau masih  bisa mencintai… maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun.

Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ ".

Dunia belum berakhir..

Tuesday, July 18th, 2006

Hmm..

Tampaknya tulisan di blog ini menuai banyak kritik dan saran dari teman2 terbaikku.

Makasih atas komentarnya, terutama messages di fs yang menguatkanku.

Tapi sebenernya..


Belakangan ini aku mulai melihat sekitarku.

Pengalaman sakit kemarin membuatku sadar, banyak orang di sekitarku yang peduli dan sayang ma aku. * gr dikit ni..*

Beberapa di antara mereka menunjukkan porsi perhatian yang ‘berlebihan’.

Seneng sih.. tapi mestinya ga perlu sampai seperti itu.

 


Aku jadi inget pesan seorang teman, kurang lebih begini:

"Im, I think u should learn 2 forget him.

U know, U n him can’t be together.

Orang2 di sekitarmu sayang ma kmu.

Aku n mereka ga ingin kmu natap masa lalu terus.

Plizz, banyak pintu. Tp slama ini kmu cuma natap satu.

Everyone love u.."

Hmm.. buat yang merasa pernah mengucapkannya padaku, thanks a lot yah..

Kalimat2mu menguatkanku.

Tapi.. Kadang aku masih saja menyesalinya.

Boleh ga sih??


Apakah kita harus selalu realistis, harus selalu mikir rasional?

Realistis n rasionalnya, ya, aku udah melepaskannya.

Merelakannya bahagia dengan orang lain.

Tapi..


Kadang melihat ke masa lalu tu.. bagai menghadirkan lagi masa2 indah.

Trus.. jadi nelangsa klo sadar betapa keindahan itu udah ga di genggaman.

Gt aja sih..


Mungkin ada hubungannya dengan kenyataan bahwa aku blum bisa nerima orang laen di sisiku.

Bukan berarti masih mengharapkannya (walau kadang iya juga sih) tapi blum siap aja nerima kurang-lebihnya orang lain dan membuka diri lagi.


Sebenernya, keterlaluan ga sih, klo sampe sekarang aku masih blum bisa buka diri buat orang laen?

Padahal dia aja udah siap nikah bentar lagi.


Satu yang kuyakini, suatu saat nanti aku pasti bisa..

Bila saatnya tepat..

Dengan orang yang tepat..

Amin.

Masuk lagi..

Sunday, July 16th, 2006

Hmm..
Akhirnya hari ini aku masuk kantor lagi.
Setelah 5 hari istirahat yang melelahkan (lho..??).
Banyaak banget yang pengen kuceritain, tapi kayaknya ga semuanya penting. Hehehehe.

Tiga hari di Semarang beneran istirahat deh.
Bangun pagi, sarapan, minum obat, bobo, makan siang, minum obat, bobo, makan malam, minum obat, bobo.. Hehehehe..

Sementara aku bobo, ibu ngurusin perpanjangan ktp n sim-ku.
Hasilnya, ktp beres, dapet surat boro, tapi sim blum jadi.

Hari ketiga, aku jalan2 ma ibu n dapet 4 pasang kalung-gelang hasil merangkai sendiri.
Ga tau deh, ibuku lagi tergila2 ma ‘perhiasan’ kayak gt.
Masa beliau sampe punya 21 pasang kalung-gelang-anting!! Ampun deh!
Awalnya sih aku cuma megang2.. Lama2 nemu yang menarik juga. Hehehehe..
Oya, lain kali kupasang deh, fotoku pas make SEMUA ‘perhiasan’ ibu itu! Hihihihi..

Trus jmt malem da nyampe jogja.
Rencananya mau bantuin adek pindahan kos.
Ih, kos barunya lebih bagus dari kosku! Lebih gede, kamar mandi dalem, lebih mahal..
* ngiri nih, critanya.. *

Di tempat bulik, dipijet deh. Enaaak bgt, langsung longgar seluruh badan.
Selain itu, dapet ‘terapi’ enak: sebutir telor ayam kampung tiap pagi n sore, rendaman jeruk nipis, n makan makanan bergizi terus.
Kangen juga terobati dengan ketemu adek2 sepupu.

Kami juga sempet ke gunung kidul, sowan simbah n keluarga di sana.
Sepanjang perjalanan, terutama di piyungan, di kiri-kanan jalan banyak sisa-sisa reruntuhan bangunan akibat gempa kemarin.
Baru deh aku nyadar, betapa bencana itu dekat dengan kami.
Bagian belakang rumah nenek juga sempat runtuh, walau sekarang sudah diperbaiki.
Dan betapa beruntungnya kami sekeluarga, tetep selamat walau berada di sekitar daerah bencana.
Puji Tuhan!

Sementara itu aja deh, yang perlu kuceritakan tentang liburan kemarin.
Dan hari ini aku sudah cukup bugar untuk menghadapi pekerjaan dan tugas-tugasku.
Hmm..